Sedikit Cerita tentang Pola Mutasi

Nama saya Dendi Andrian seorang pegawai golongan IIc dengan masa kerja golongan 4 tahun, Cerita ini berawal ketika saya ditugaskan penempatan pertama di KPPN Baturaja, KPPN ini menarik dengan pegawai KPPN yang sangat berdedikasi terhadap setiap pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.

Mari kita lihat kehidupan salah seorang pegawainya yang benama Muhammad Ridho, bapak tiga orang anak ini (maaf kalau saya salah) sudah tujuh tahun bekerja dan setiap pekerjaannya memuaskan kepala kantor, kemudian atas kesabarannya dipindahkanlah beliau ini ke KPPN Khusus Banda Aceh. Dari sini kita belajar bahwa kesabaran dan pengabdian yang tulus berbuah manis di kemudian hari.

Pelajaran kedua kita ambil dari seorang pegawai bernama Budi Satyanto masa kerja di KPPN Baturaja sama, tujuh tahun, setiap pekerjaannya dikerjakan dengan baik, dan saya perhatikan bolehlah kita sebut beliau ini staff ahli dari seksi perbendaharaan, ternyata beliau ini sudah berusaha selama setahun lebih agar dipindahkan ke kantor pusat, ketika ada penerimaan ke Direktorat jenderal Anggaran beliau mengirimkan lamaran dan mendapat panggilan berakhirlah kisah mas Budi ini di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Dari sini kita boleh mempertanyakan apakah beliau ini tidak loyal? Apakah beliau tidak sabar untuk menunggu giliran mutasi?

Sekarang cerita tentang saya, ada beberapa ketakutan mendasar ketika saya tidak mengetahui sampai kapan berada di suatu tempat dan ketakutan setiap hari apakah akan ada SK mutasi untuk saya hari ini? Setelah satu tahunan bekerja di KPPN Baturaja saya diberi kesempatan untuk mengikuti tes KPPN Percontohan tahap pertama tanpa diberitahu akan ditempatkan dimana jika lulus. Kebetulan saya lulus, saya bilang kebetulan karena banyak teman saya yang secara akademis lebih bagus nilainya ketika kuliah ternyata belum memperoleh kesempatan untuk lulus. Keluarlah SK penempatan dan ketika itu istri tercinta saya baru saja melahirkan, berdasarkan SK tersebut saya harus segera melapor ke KPPN Palembang paling lambat tanggal 27 Juli 2007. Istri saya masih dalam perawatan pasca melahirkan dan saya diharapkan harus segera ke melaporkan diri ke Palembang.

Saya melaporkan diri pada tanggal yang ditentukan, tapi masalahnya bukan disini pada saat itu saya hanya memegang uang beberapa ratus ribu rupiah saja setelah biaya aqikah dan persalinan istri saya. Dan akhirnya saya memperoleh pinjaman uang dari teman di Kanwil VI Ditjen Perbendaharaan palembang, uang itu saya gunakan untuk sesegera mungkin mencari kontrakan dan membawa istri dan anak saya ke tempat tugas baru karena kebetulan kami tidak memiliki pembantu. Jadilah kepindahan saya yang pertama ini serba cepat dan tanpa persiapan apa-apa. Tadinya harapan saya di Palembang saya bakal diperbolehkan menempati salah satu rumah dinas disana, tapi kenyataannya kan tidak, akhirnya biaya SPPDnya tidak mencukupi untuk membayar kontrakan dan biaya memindahkan barang tapi itu tadi untungnya banyak pegawai yang mau menolong menampung sementara bahkan meminjamkan dana untuk keperluan pindah ini.

Sekarang sudah satu tahun tujuh bulan saya bekerja di KPPN palembang, berdasarkan pengalaman diatas terus terang saya takut setiap SK mutasi keluar, bukan karena masalah apa-apa, saya takut ketika saatnya mutasi tiba nanti, saya sedang tidak memiliki cadangan dana yang mencukupi dan tidak bisa melaksanakan panggilan tersebut sebagaimana mestinya, apakah saat itu anak saya baru daftar sekolah dan harus segera dipindah juga karena keluarga kami tetap bisa berkumpul. Apakah nantinya saya akan mendapat punishment atas kejadian itu (setiap hari hal ini menjadi pikiran saya) apakah saat itu saya berhasil mendapatkan dana untuk pergi ke tempat tugas (baik meminjam atau dana pribadi) karena SPPD akan dibayarkan kemudian hari setelah kita sampai di tempat baru.

Kalau boleh sumbang saran jika ini tidak dianggap lancang, kenapa tidak ditentukan saja batas paling cepat ataupun paling lama kita berada di suatu kantor, maaf lho ya sekali lagi maaf tentunya orang-orang di bagian mutasi tentunya sudah menggunakan sistem yang terbaik, tetapi apakah tidak lebih baik jika para pegawai itu siap ketika saatnya nanti harus dimutasikan. Jadi mutasi bukan sesuatu yang seakan-akan ajaib dan lompat kesana kemari. Saya memang tidak tahu sama sekali dengan pola mutasi ini ini hanya sekedar ketakutan pribadi seorang pegawai yang takut jika si pegawai ini tidak bisa memenuhi keinginan pemimpinnya dan direktorat ini. Beberapa pemikiran saya yang keluar dari ketidaktahuan saya ini mungkin bisa digunakan sistem mutasi region ataupun mutasi nasional dengan kejelasan tahun kerja di suatu daerah. Mutasi region memang ada kekurangannya karena harapan untuk bekerja di dekat daerah asal menjadi tipis. Adapun mutasi nasional dengan jejelasan tahun kerja akan menjadi lebih efektif karena kita sudah memperkirakan berapa lama kita di suatu tempat, apakah lebih baik membawa keluarga atau ditinggal saja sehingga strateginy lebih matang. Ada juga satu pemikiran untuk dibuat angket secara nasional sebenarnya para pegawai ini ingin ditempatkan dimana, belum tentu kantor pusat atau kantor-kantor jawa menjadi pilihan semua pegawai, karena dari beberapa bincang-bincang santai saya dengan teman-teman banyak yang betah di tempat dia di tempatkan dan ingin tetap disana ataupun memang benar-benar ingin dekat dengan kampung halaman. Kedua pihak ini saya yakin tidak bisa disalahkan juga walaupun kami sudah menandatangani pernyataan siap ditempatkan di mana saja di Indonesia.

Saya harap tulisan ini dibaca dan disikapi dengan bijak semoga ada hikmahnya, dan saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan kata-kata yang tertulis semoga tidak ada yang tersinggung dan kesalahan ini semata-mata berasal dari ketidaktahuan saya sebagai seorang manusia, terima kasih.

3 pemikiran pada “Sedikit Cerita tentang Pola Mutasi

  1. Sangat setuju dg pola mutasinya.
    Saya sbg istri dari pegawai kppn yg juga bekerja sbg pns d instansi lain merasa kesulitan dg pola mutasi yg kurang jelas dan hanya menunggu sk mutasi suami dg perasaan was2 dan penuh pertanyaan.
    Apakah saya bisa cepat menyusul suami k tempat baru ? Bagaimana sekolah anak2 ? Bagaimana penitipan anak2 ? Bagaimana mencari rumah baru dan barang2 yg dbawa ? Dan banyak pertanyaan remeh temeh lainnya…
    Dari cerita ada beberapa pernikahan yg hancur krn istri tdk mengikuti suami, brp istri yg resign krn mengikuti suami….
    Semua memang pilihan masing2, tetapi hendaklah bagian mutasi lebih bijak dan manusiawi menyikapi hal ini…
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s